Google+ Followers

8 Maret 2014

PUISI

         

         CINTA SEMU 

(Ahyatul Fitria
XII-E)

         Tertulis dalam buku kecilku

         Dan terukir dalam hatiku

         Perasaan  yang tak pernah hilang

Meskipun itu  terlarang

Awal rasa yang menggebu

Dibalut perasaan rindu

Perasaan yang teramat syahdu

Dan terjalin tanpa restu

Namun...

Waktu berubah menjadi kelabu

Menjadi bayangan yang begitu semu

Semua hilang menjadi debu

Dihembus angin jadi tak tentu

Tertulis dalam buku terakhirku

Kata yang sangat menyakitiku

Kau pergi tinggalkan aku

Sendiri melawan sang waktu


6 Maret 2014

PUISI

            

CINTA TERLARANG

(Alfan Abidzarr)

Sampai kapan aku harus membisu
Mendekam dalam penjara penuh kobaran bara api
Api yang kian hari membakar dinding-dinding hati
Sepertinya sudah keropos lagi rapuh
Sehingga ku tak kuasa memenjarakan rasa ini
      Rasa yang baru ku alami
      Rasa yang mengalir tanpa peduli
      Rasa yang indah bersama hari-hari
      Di mana aku dan kau dipertemukan di sini
Tapi sayang .....
Aliran derasnya rasa ini terbendung
Terbendung oleh bendungan besar, kokoh, dan tinggi
Hanya bisa mengalirkan kata-kata indah rindu dan cinta
Tanpa berbuat lebih untuk keindahan rasa
     Tuhan ....
     Mengapa Kau berikan rasa ini tanpa ada kuasa
     Mengapa Kau hadirkan dirinya di saat aku berpunya
     Mengapa Kau takdirkan aku berjuma dia
     Mengapa rasa ini masih menggoda
Dengan hidayah-Mu
Aku antarkan pada jalan-Mu

8 Maret 2013

CERPEN




JANGAN TINGGALKAN DIA!
Oleh: Wasilatur Rohmaniyah (XII-F)


Waktu telah menunjukkan pukul 24.00. Namun aku belum bisa menutup mata sipitku ini. Entahlah mengapa, tapi sepertinya aku bakalan susah tidur malam ini. Tak ada yang bisa aku lakukan agar aku bisa tidur. Lagi pula ini sudah larut malam, tidak baik untuk seorang gadis belum tidur semalam ini. Seperti yang biasa Rio katakan kepadaku jika aku menelfonnya  jam-jam segini.
Tapi semuanya tak akan mungkin ia katakan lagi kepadaku. Mungkin itu semua hanya tinggal kenangan buatku. Kenangan yang mungkin telah ia lupakan sejak lama. Semenjak dia tak lagi bersamaku.
Aku dan dia. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk kta. Memang harus seperti inilah kita. Terpisahkan dan tak mampu mempertahankan semuanya. Mungkin semuanya tak benar buat kita. Tapi cukup salah juga jika kita tentang.
Semuanya berawal dari sebuah persahabatan. Karena memang sejak kecil aku dan Rio bersahabat. Kita dekat dan akrab. Siapa yang tak tahu dengan kedekatan kita. Apalagi kedua orang tua kita . Bahkan dulu aku pernah dipanggil TU sekolahku hanya gara-gara dikira pacaran diperpustakaan.  Konyol gak tuh?. Biasalah beliau kira kita pacaran, karena baca satu buku berdua.
 Lulus SMP aku harus melanjutkan study ke Semarang, tempat tinggal omaku. Sedangkan dia harus melanjutkan ke Sumatra, karena ayahnya yang pindah tugas ke sana. Maklumlah seorang DPR. Selama di sana dia sering menghubungi aku. Semakin lama waktu memisahkan kita, kini mulai terasa rindu itu ada. Aku mulai menyadari ada rasa yang lebih dari sebatas rasa pada seorang sahabat di hatiku terhadapnya. Rasa ketika aku merindukan kebersamaan kita. Rasa ketika aku mengingat semua perhatiannya kepadaku.
Semula aku tak mau jujur kepadanya. Namun dengan bergulirnya waktu dia sadar dengan sendirinya bahwa sahabatnya memang menyayanginya. Akunya kepadaku. Memang tebakannya tidak meleset. Tapi aku sanggah dengn alasan dia hanya mengigau.
Aku kira dia akan mengerti bahwa aku memang sedang mencari alasan saja. Tapi tidak, ternyata Rio yang aku kenal dulu tidak banyak berubah. Dia percaya kalau aku tidak benar-benar menyayanginya. Dia tetap percaya kepada semua perkataanku. Karena dia tau benar aku tidak mungkin bohongin dia.
Sejak saat itupun dia tidak pernah lagi bertanya tentang perasaanku. Hubungan kita jalani selayaknya pertemanan pada umumnya. Selayaknya seorang teman, aku selalu bertanya tentang kabarnya. Mengingatkannya waktu salat. Tak jarang aku menyuruhnya menelfonku, dan dengan cepat dia menghubungiku.
Tak ada yang menarik yang patut aku ceritakan lagi. Karena kita memang hanya berteman biasa.
Aku selalu berharap dia bisa mengerti bahwa aku benar-benar sayang kepadanya. Kapanpun masa itu tiba, aku akn selalu menunggunya. Aku hanya mampu memberi ketulusan cinta untuknya. Biarlah. Semoga dia bisa tau dengan sendirinya semua ini.
Rasanya aku semakin sulit jauh darinya. Aku mencari cara agar dia tau perasaanku yang sebenarnya. Aku punya inisiatif untuk menjadi pengagum rahasianya. Setiap akhir pekan aku selalu mengirimkan surat kepadanya.  Selalu kuselipkan kata  pengagum rahasiamu.
Semuanya berjalan seperti yang aku harapkan. Aku bisa mengatakan kepadanya tentang semua perasaanku tampa harus mengetahui siapa aku sebenarnya. Memang ia tak jarang menanyakan aku ini siapa. Dia juga sering mengancamku tidak membalas suratku jika aku tidak jujur kepadanya. Namun aku mampu memberi alasan kepadanya, bahwa “KETULUSAN SAYANGKU INI TAK KU PERUNTUKKAN UNTUK UMUM JADI BIARLAH AKU TERUS MENGAGUMIMU TANPA HARUS KAU TAU SIAPAKAH SOSOK AKU.
Tiga bulan kemudian Rio memberi tau aku untuk pulang  ke kampung. Ia menyuruhku untuk ikut pulang juga bersamanya. Dengan begitu bahagianya aku menyetujui ajakannya itu. “ Semoga dia mengajakku ke kampung untuk mengungkapkan perasaannya kepadaku”. Harapku dalam hati.
Aku cepat-cepat bersiap-siap. Sesegera mungkin aku menelfon nenek yang senang bersenam yoga itu. Alangkah bahagianya aku karena nenekku mengizinkannya. Aku langsung memberi tau ayah dan mama, bahwa aku akan pulang nanti sore.
_DEAR MY LIFE_
     Ku rintiskan kata demi kata dalam bait per bait kalimat di setiap sisipan sajak di alenia yang aku susun ini. Aku tiadalah mahir merangkai kata. Aku pun tiadalah pandai menyusun kalimat yang mampu menyulap semunya dalam kesempurnaan. Namun besar harapanku, semoga engkau hargai toreh-toreh penaku ini yang sengaja aku layangkan kepadamu satu. Begitu rumit aku lukiskan keadaan hati yang tengah menggebu-gebu ini dalam kata perkata agar engkau mengerti tentang kehadirannya.
Mungkin ketika kertas ini sampai di genggamanmu, di saat itupun aku tengah membayangkan sebuah pertemuan suci antara engkau dan aku. Pertemuan yang akan mengungkap segala tabir yang selama ini tersirat tampa penentu. Semoga apa yang tengah aku angan-angankan selama ini ‘kan benar-benar  terjadi. Kuas-kuasku ini tengah menggambar laju rasa yang menggebu-gebu karena engkau....
Semoga engkau tengah merasakan hal yang sama seperti aku padamu detik ini
                                                                                                        Sang Pengagung Rahasiamu

27 Januari 2013

Kata Mutiara

Burung dalam Sangkar

(Alfian Farusshony XII-C)

 

Kau tau burung dalam sangkar"itulah aku sekarang,,,,,Aku terbelenggu oleh diriku sendiri,,,aku ingin lepas dari dirimu,,,,,inginkanku tak tau namamu,,,,,tapi apa daya yang aku dapat,,,????Hanyalah pedih di sekujur tubuhku,,,,,Semoga kau mengerti tentang perasa'anku ini,,,,,perasa'an yang slalu ingin dekat denganmu,,,,,,,,,"BURUNG DALAM SANGKAR".....,,,,,"ITULAH AKU"........

23 Januari 2013

Cerpen



Aku Berkorban Demi Aisyah
(Silvi Agustin: 22 Januari 2013)

Aku terus terbaring di kasur yang sudah kusam. Ku sebut nama Tuhan tanpa henti. Sholawat selalu mengiringi langkahku. Aku semakin yakin, Allah itu satu dan selalu ada untuk setiap hamba-Nya yang butuh seperti aku.
“Ya Allah, kuatkan imanku. Jadikan aku hamba-Mu. Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari apa yang terjadi kepadaku.”
Tubuhku tak berdaya. Aku merasa kesakitan. Aku lapar, aku ingin makan. Satu minggu perutku tak terisi makanan. Aku juga haus. Tapi aku tetap bertahan demi imanku.
Tiba tiba pintu terbuka. Aku gemetar dan semakin takut. Tubuh itu berjalan menghampiriku dengan membawa kayu rotan.
“Hei, aku sudah memberimu waktu 2 hari. Sekarang cepat katakan. Dan kamu kembali kepada jalan nenek moyangmu!!” ucapnya.
“Tidak ayah!! Aku tidak ingin kembali seperti ayah. Aku tidak ingin menjadi golongan orang orang kristen! Aku ingin Islam ayah, aku ingin Islam!!” tegasku
“Jangan sekali kali kamu katakan Islam lagi Arin!! Atau kamu akan terus seperti ini.” ucapnya sembari pergi meninggalkan aku di hutan.
Aku terus menangis, hingga isak tangisku terdengar oleh seseorang yang sedang berburu. Orang yang sebaya dengan ayahku itu tiba tiba masuk ke dalam gubuk di mana aku disekap oleh ayah.
“Kamu kenapa nak? Kenapa kamu ada di sini?tanya beliau kepadaku.
Aku pun tidak menjawab apa-apa. Aku takut dan hanya bisa menangis. Tapi orang itu melanjutkan kata-katanya.
“Jangan takut nak! Aku bukan orang jahat. Sebaiknya kamu ikut aku. Ayo nak....” ajaknya.
Tanpa berfikir panjang, aku mengikuti saja orang itu. Dalam perjalanan, beliau menceritakan asal usul beliau. Beliau juga bertanya tentang siapa aku dan keluargaku.
Matahari mulai terbenam, Pak Ahmad membawaku ke rumahnya. Beliau hidup begitu mewah bersama istri dan anak gadisnya. Semenjak kejadian itu, aku diangkat menjadi anak mereka. Aku juga diterima menjadi saudara baru buat Aisyah. Mereka sangat baik padaku. Aku pun juga belajar banyak tentang Islam pada mereka. Setiap hari, rumah kami selalu dihiasi dengan suara-suara takbir dan bacaan Al-Qur’an. Aku bahagia, akhirnya aku menemukan keluarga baru dalam Islam.
Pagi itu setelah aku pulang dari pasar tiba tiba Fahmi menyapaku,” hai Arin, baru pulang?”
“Iya. Tumben ada kamu? Akhir akhir ini, aku tidak pernah melihat kamu. Memangnya kamu kemana?” tanyaku.
“Aku agak sibuk, Rin.”
”Sibuk? Sibuk apa?” tanyaku lagi.
“Emmmm.... Jadi gini, akhir-akhir ini aku sibuk mempersiapkan pertemuan keluargaku dengan seseorang”.
“Maksudnya? Kamu mau tunangan?” tanyaku penasaran.
“Kalau tunangan sih belum, masih tahap meminang.” jelasnya.
“Siapa sih???”
“Kamu tidak perlu tau sekarang. Nanti pasti kamu tau. Doakan saja aku semoga berhasil.”
“Ya, pasti aku doakan.”
Kemudian aku pun bergegas pulang. Dalam hati bertanya tanya, ”Siapa sebenarnya perempuan yang akan dipinang Fahmi??? Setahuku, Fahmi tidak pernah dekat dengan perempuan manapun. Sekarang harapanku untuk mencintai Fahmi akan pudar.”
Aku berjalan menuju dapur. Makanan dan minuman telah dihidangkan. Aku heran melihat makanan sebanyak itu.
“Ibu, kenapa masaknya banyak sekali?” tanyaku pada ibu.
“Ini nak, sebentar lagi ada tamu ke rumah kita.” jawab ibu.
Aku tak meneruskan pertanyaanku pada ibu. Karena ibu kelihatannya sangat sibuk dan aku tidak ingin mengganggunya. Tiba tiba terdengar suara mobil dari luar rumah.
“Aisyah, kamu buka pintunya nak....!
“Iya bu....”
Aisyah pun membuka pintu. Aku terkejut saat melihat kedatangan Fahmi beserta keluarganya kemari. Aku bertanya tanya dalam hati. ”Apa ini yg dimaksud Fahmi kemarin??? Tapi siapa yang ia pinang?”
Saat kedua keluarga itu berkumpul di ruang tamu, aku hanya bisa menunggu kepastian mereka di serambi belakang. Tiba tiba Fahmi mengejutkanku,”Arin......”
“Fahmi???” sembari menoleh ke arahnya.
“Arin, apa kamu sudah tau siapa yang aku pinang?? tanyanya.
“Siapa??? Aisyah?????”
“Bukan Aisyah, tapi kamu!”
“Aku?? Tapi.....”
Aku terkejut bukan main. Aku memang mencintainya. Tapi untuk saat ini, sangat tidak mungkin kejujuran itu terungkap. Aku kembali tak berdaya. Yang ku ingat hanya wajah Aisyah yang sangat baik padaku. Aisyah sangat mencintai Fahmi. Bagaimana mungkin Fahmi meminangku? Sementara aku, aku memikirkan bagaimana perasaan Aisyah jika tau hal ini.
“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?” ucapku dalam hati.
Aku pun memberanikan diri membuka mulutku. ”Fahmi, seharusnya yang kamu pinang bukan aku. Tapi Aisyah. Dia sangat mencintai kamu.” ucapku.
“Tapi kenapa Arin??? Aku yang mencintai kamu. Bukan masalah Aisyah...”
“Iya, aku tahu. Tapi bagaimana mungkin aku menerima kamu. Sementara Aisyah??? Tolong Fahmi, jangan mempersulit keadaanku di rumah ini. Aku hanya anak angkat! Dan aku tidak ingin mereka semua membenciku. Aku mohon Fahmi, pinang Aisyah.....!
Fahmi hanya terdiam. Tiba tiba terdengar suara ibu memanggilku.
“Arin...... Ayo masuk nak!
“Iya bu....”
Kemudian kami berkumpul. Hatiku gelisah. Aku takut terjadi sesuatu pada keluarga ini. Bagaimana ini? Aku ingin berlari menjauh dari ruangan itu. Tapi keadaan yang membuatku tertunduk takut.
“Jadi, apa maksud kedatangan keluarga Anda kemari?” ucap Pak Ahmad.
“Maksud kedatangan kami, kami ingin meminang salah satu di antara putri Anda untuk anak kami, Fahmi.”
“Siapa?” tanya Pak Ahmad.
“Siapa Fahmi? Ayo katakan nak...” sahut ibunya sembari menoleh ke Fahmi.
Fahmi terdiam. Tapi ia harus menjawab saat ini juga. Karena tidak mungkin ia dan keluarganya pulang dalam keadaan malu sebagai pengecut. Akhirnya, dengan terbata-bata ia memberanikan diri untuk bicara, ”Aku..... Aku ingin meminang A.... A..... Aisyah.”
          Aisyah bahagia mendengar kabar itu. Sementara aku, aku bagaikan batu yang terlempar ke dalam laut. Tak tahu kapan kembali menjadi batu yang dihujani air dari langit. Mungkin Fahmi tdk tau jika aku juga mencintainya. Tapi aku bahagia melihat Aisyah bahagia, walaupun hanya aku yang merasakan kesedihan ini. Aku tau Fahmi mungkin tak bisa menerima kenyataan ini. Tapi aku yakin, Fahmi akan bahagia bersama Aisyah.

Cerpen




Jomblo sebelum Sukses
(Silvi Agustin: 22 Januari 2013)

Aku terus tertawa dan bercanda bersama mereka. Aku bahagia jika selalu berada di dekat mereka. Tapi terkadang aku merasa sepi dan sendiri meskipun mereka mengelilingiku. Sesekali aku meneteskan air mata jika mengingat keluargaku yang aku tinggalkan demi menuntut ilmu.
Ini adalah tahun ke 6 aku berada di sebuah pondok pesantren. Sekarang aku sudah tak tahan lagi ingin segera meluluskan sekolahku. Aku sudah cukup bersabar menanti masa-masa di mana aku melepaskan seragam putih abu-abu dan merubah penampilan menjadi wanita dewasa, sama seperti yg selalu aku bayangkan.
“Ibu, setelah lulus, aku ingin berhenti dan melanjutkan kuliah.” ucapku pd ibu.
“Kalau kamu memang ingin kuliah, ibu setuju. Tapi kamu harus mencari biaya sendiri.” ucap beliau.
“Kamu tau kan, ibu tidak memiliki banyak uang. Apalagi, sebentar lagi adikmu sudah mau masuk sekolah dasar.” tambahnya.
Aku mengerti keadaan ibu dan ayah. Sebagai orang tua, mereka memang wajib menafkahi keluarga. Tapi aku harus bisa belajar tidak menyusahkan mereka. Oleh karna itu, aku menyanggupi permintaan beliau.
Aku harus giat belajar agar bisa menjadi apa yang aku inginkan. Aku ingin menjadi orang sukses dan membahagiakan ayah dan ibu agar mereka bangga kepadaku.
Ku dengar suara ramai di halaman sekolah. Aku segera menghampiri teman-temanku yang juga berkumpul di sana.
“Ada apa sih?? Kenapa ramai sekali???” tanyaku.
“Ada ustadz baru, Tik....” sahut Vivie
“Ustadz baru kok segitunya??? Biasa ajalah.....”
“Aah, itu kan kamu Tik, bukan kita.”
Aku hanya bisa mendesus kemudian pergi dari kerumunan mereka. Bel masuk berbunyi. Ternyata, ustadz baru itu masuk di kelas kami.
Ustadz itu bernama Faris. Beliau memperkenalkan dirinya. Semua mendengarkan meski degan suara ramai. Hanya aku yang tidak mempedulikannya.
“Eh, Tik, kamu dilihatin terus tuh sama ustadz....” ledek Rohmah.
“Moleeen.... Diam!!!!” bentakku.
Tanpa sadar, nada ucapanku tinggi melebihi suara-suara mereka yg bercengkrama degan ustadz itu. Semua pandangan menoleh ke arahku. termasuk ustadz Faris.
“Eh, Tik, kamu dilihatin tuh...” ucap Anis.
Aku menoleh ke arah ustadz sembari tersenyum malu.
“Siapa nama kamu?” tanya beliau.
“Tika ustadz.....” sahut Yeni.
“Ya sudah, kamu yang baca kitabnya”
Aku pun menuruti perintah beliau. Saat bel istirahat, seperti biasa, aku dan teman-teman bermain di depan kelas.
“Untung saja aku lancar baca kitabnya. Coba kalau tidak, aku kan bisa malu.” omelku.
Aku terus berjalan ke atas lantai. Tiba tiba tanpa sengaja, aku tertabrak ustadz baru itu.
“Maafkan saya ustadz, saya benar-benar tidak sengaja.” ucapku tertunduk bingung.
“Tidak apa-apa. Tika!”
“Iya ustadz?”aku berbalik bertanya.
“Oh, tidak apa apa. Ya sudah, saya mau ke kantor dulu.” pamitnya.
Aku terus menatap kepergiannya. Tatapan matanya seolah memberiku isyarat yg nyata. Tapi aku sendiri juga tidak tahu isyarat apa itu.
Setiap hari ustadz Faris mengajar di kelas kami. Dan setiap hari itu pula, tatapannya nyaris tak pernah terlewatkan olehku. Aku hanya diam. Aku tidak berani bercerita kepada teman-temanku. Karna aku yakin, mereka akan berbicara tentang hal ini setiap hari.
Hingga suatu hari, saat bel pulang berbunyi, aku meninggalkan buku kalenderku di kelas.
“Dini, kamu pulang dulu saja. Aku masih mau mengambil buku yg ketinggalan.” ucapku.
Sambil berlari, aku mengambil buku itu. Tapi sungguh terkejut bukan main, aku mendapati ustadz Faris berada di kelas itu juga.
“Tika, kamu sedang apa?” tanyanya.
“Saya, buku saya ketinggalan.” jawabku.
“Tika, saya boleh bilang sesuatu?”
“Apa ustadz?” tanyaku lagi.
“Sebenarnya, sejak saya masuk kelas ini, saya sudah menaruh hati sama kamu.” ucapnya.
“Maaf ustadz, saya tidak mengerti?”
“Tika, saya cinta sama kamu.”
Kata-kata ustadz yg tidak pernah aku duga membuat tubuhku lemas tak berdaya. Tapi itu semua tidak merubah prinsip dan pendirianku, bahwa aku forever alone pipel sebelum sukses dan meraih cita-citaku.
Dan sejak saat itulah, aku tidak pernah bertemu kembali degan beliau. Yang ku dengar dari salah satu ustadz, beliau pindah tugas atas permintaan kyai.